CP - Above The Clouds
Above The Clouds
Rintik hujan dan alunan musik yang menemani saya sekarang.
Ya, jam pulang kantor memang selalu berhasil membuat setiap sudut kota menjadi
padat dan hal itu tak bisa dihindarkan. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan di sini
saya, di dalam mobil sendiri terlalu sepi dan tidak ada yang memecah keheningan
ini. Melihat handphone yang tertera hanya email masuk, tidak sengaja melihat ke
tanggal hari ini dan seketika saya menghembuskan nafas kasar.
Sudah besok ternyata, waktu cepat sekali berlalu walaupun
tanpa dirimu. Batin saya.
Memikirkan apa yang harus saya lakukan besok,
menimbang-nimbang hal yang bisa saya lakukan esok hari tanpa adanya air mata
yang membasahi pipi. Sudah waktunya bukan? Waktunya saya mengunjungi kamu
lagi. Batin saya sembari tersenyum getir.
Sesampainya di rumah saya dengan cepat bersih-bersih dan beristirahat. Setidaknya besok saya tidak menemuinya dalam keadaan yang tak terurus.
Hari ini tiba, hari di mana saya sangat mengharapkan tidak ada. Seandainya tidak ada hari ini, hidup saya mungkin saat ini sudah damai tentram bersamanya. Mengawali hari dengan melamun sudah sebuah kesalahan, dengan berat langkah saya pergi ke sebuah tempat. Satu-satunya tempat yang biasa saya kunjungi selama kurang lebih satu tahun hanya untuk bertemu dengannya.
“Dev...” Suara ibu mengalihkan lamunan saya. Ternyata benar,
ibu selalu merasakan apa yang anaknya rasakan. Bahkan saat ini beliau memeluk
saya erat dengan suara yang sedikit tercekat menahan tangisannya, berusaha
tegar di hadapan anaknya.
“Devan pergi dulu ya bu.” Ucap saya sambil melepaskan
pelukannya dan sekuat tenaga tersenyum, ya walaupun ibu tau itu bukan senyum
bahagia.
Ibu hanya mengangguk dan melihat saya pergi meninggalkannya
sendirian, termangu. Mengendarai mobil dengan hati-hati, karena takut ada
apa-apa karena hati saya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Menyempatkan
mampir ke florist untuk membeli sebucket bunga kesukaannya.
Setelah dipikir-pikir dia bukan perempuan yang pilih-pilih tentang
bunga kesukaan. Karena dia pernah bilang ke saya kalau
“Sebenernya saya
gak terlalu ngerti sama makna dari bunga-bunga, tapi selagi bunga ini pemberian
dari kamu. Saya akan terus menyukai bunga ini tanpa peduli maknanya.”
Ucap dia sambil tersenyum ke arah saya waktu itu. Tidak lupa
membeli bunga-bunga lain dan pelengkapnya. Bingung bukan? Kenapa saya membeli
banyak sekali bunga di siang hari ini? Tunggu sebentar, nanti kalian juga akan
tau tujuan saya hari ini kemana. Bertemu bidadari tidak mungkin dengan tangan
kosong bukan?
Sesampainya di tempat tujuan, saya menghela nafas berat
sembari mengatur ekspresi. Karena dia paling gasuka wajah sinis dan jutek saya.
Saya mencoba senyum ceria dan memperbaiki penampilan di dalam mobil. Turun dari
mobil dengan membawa barang-barang yang tadi sempat saya beli, melewati
beberapa blok dan akhirnya sampai tepat di depan nisan, tertulis nama seseorang
yang berhasil membuat saya di titik ini, Raya Cantika.
Saya berjongkok dan membersihkan beberapa rumput liar.
Mencoba untuk berdoa sambil menahan tangis dan sesak yang amat sesak di dalam
dada. Selesai berdoa saya menaburkan beberapa kantong bunga dan air yang tadi
telah saya beli. Dan tidak lupa sebucket bunga sebagai point utama hari ini.
setelah melakukan itu semua saya termenung memandang batu nisan yang sudah
cantik oleh banyak bunga di depan saya. Tak tertahankan air mata pun jatuh diluar
kuasa saya. Padahal saya sudah berjanji untuk tidak ada air mata hari ini.
“Rayaa...” panggil saya dengan suara serak menahan tangis.
“Maaf raya, saya gak bisa tahan air mata ini. Ternyata saya
tanpa kamu itu hanya seseorang yang lemah.” Ucap saya lagi menghapus jejak air
mata.
“Kamu betah banget ya di sana? Sampe lupa pergi ke mimpi
saya heuh? Setiap malam saya selalu berdoa supaya kamu hadir disetiap mimpi
saya. Tapi akhir-akhir ini kamu gak hadir disana, gak mungkin lupa kan sama
saya?” monolog saya memanjang.
“Maaf ya ray, saya sudah jarang berkunjung. Dunia saya
setahun ini kacau karena kamu pergi tiba-tiba. Mirisnya saya gak bisa
memaksa kamu buat tetap tinggal.” Saya bengong sembari memandang batu cantik di
depan saya, dan tiba-tiba saya terkekeh sendiri.
“Saya boleh gak sih buat menyerah lalu menyusul kamu ke atas
sana?”
“Di sini terlalu sepi ray, dunia terlalu sunyi tanpa
kehadiran kamu.” Ucapku terdiam kembali.
“Cantik...” Ucap ku lagi sembari menahan air mata yang sudah
tergenang di kelopak mata.
“Kenapa selalu nolak saya panggil cantik? Saya gak lagi
berbohong padahal, kamu Raya Cantika bukan?” Tekanku.
“Setahun kepergian kamu yang mendadak ini membuat saya
hilang arah ray, dunia saya berhenti tetapi dunia sekitar saya berjalan
seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dan saya selalu mengutuk itu, kenapa
orang-orang tetap bahagia tetapi saya tidak? Kenapa tuhan secepat ini mengambil
kebahagiaan terbesar saya?”
“Raya, bertemu dengan kamu itu bukan hal yang biasa saja ray.
Setiap hari saya selalu bersyukur karena tuhan telah mempertemukan saya dengan
orang seperti kamu. Bertemu dengan kamu itu merupakan anugerah terbesar selama
hidup saya, tetapi saya gak pernah memikirkan kalau kehilangan kamu pun
merupakan bencana terbesar juga dalam hidup saya. Jangankan memikirkan,
terbesit sedetikpun saya gak akan kuat buat kehilangan kamu ray.”
“Raya maaf, disaat terakhirpun kamu meminta untuk tidak
bertemu dalam keadaan berantakan seperti ini. tetapi entah kenapa pikiran dan
perasaan saya selalu berantakan kalau berurusan dengan kamu. Saya gak bisa
janji buat gak hancur disaat kehilangan orang seperti kamu.”
“Kehilangan kamu bukan sebuah pilihan yang bisa saya pilih,
itu terjadi tiba-tiba. Datang tanpa ada kata permisi, dan kamu yang memang
harus meninggalkan saya sendiri. Lagipula siapa yang siap kehilangan separuh
jiwa nya?”
"Jakarta seperti biasa ray, padat, macet, dan banyak polusi. Tidak ada yang berubah, bahkan setelah kehilangan salah satu bidadarinya. Saya akhir-akhir ini suka pergi ke pantai, yaa walaupun hanya untuk berjalan pelan di bibir pantai sambil merasakan deburan ombak. Kadang juga saya ke sana hanya untuk termenung, menyalurkan rindu kepada sang surya yang sedang menenggelamkan dirinya, meninggalkan semua yang sedang terjadi hanya untuk dapat terbit kembali esok hari." Saya kembali terdiam menatap batu nisan di depan saya dengan tatapan kosong.
“Kamu udah gak sakit lagi kan ray di sana? Kalau itu membuat
kamu lebih baik, saya akan mencoba untuk baik juga di sini, walaupun saya tahu
itu akan sangat sulit. Hidup saya tanpa adanya kamu, untuk apa ray? Untuk apa saya hidup tanpa punya rumah untuk pulang?”
“Kamu pernah bilang kalau hidup saya harus terus berjalan
dan menemukan seseorang untuk menemani hari-hari saya. Saya pikir saya gak akan
bisa untuk mencari orang tersebut.” Senyum saya getir.
“Jangankan mencari pengganti kamu, mengikhlaskan kamu pergi
untuk selamanya saja itu sudah menjadi pr terberat saya. Haha...” Air mata saya
kembali lolos.
...
“Bagaimana keadaan di atas sana? Seperti yang kamu bayangkan
atau bahkan jauh lebih indah dari itu? Setiap hari kamu menatap langit sampai
saya sendiri yang pegal melihatnya haha. Pasti kamu seneng banget ya di sana?
Setentram itukah? Saya juga penasaran ray bagaimana keadaan di atas sana.”
“Ray saya suka memikirkan hal ini. Mengetahui kamu mengidap
penyakit itu ternyata tidak ada apa-apa nya dibandingkan harus mendengar kamu
menyerah. Ketika saya sadar kalau saya orang yang paling
terakhir tahu kalau kamu sakit, itu memang menyakitkan, amat sangat. Tetapi pada
saat itu juga saya berjanji sama diri saya sendiri buat terus ada di samping
kamu sampai kamu sembuh. Sampai ketika kamu mengatakan kepada saya kalau itu
semua sangat menyakitkan. Saya mengutuk diri saya sendiri dan berdoa sama tuhan
kalau saya rela merasakan sakit itu semua asal kamu baik-baik saja.”
“Ternyata kamu kuat banget ya ray, ngerasain itu semua
sendiri seakan orang lain gak boleh merasakan sakit mu juga. Padahal saya loh
orang lainnya.” Ucapku sambil menengok ke arah batu nisan. Saya menarik nafas
berat yang kesekian kalinya.
“Monolog saya sudah ngelantur kemana-mana maaf.” Ucap saya
cepat. Terdiam menatap sebucket bunga yang saya pilih acak dan tersenyum.
“Saya selalu rindu kamu ray, selalu, setiap waktu.” Ucap
saya getir.
“Oh yaaa, sebelum ke sini saya dipeluk sama ibu. Pelukan
rindu sih rasanya, rindu sama calon menantu sepertinya hahaa...” Ucap saya,
lalu menengok jam ternyata sudah cukup lama saya duduk dan bermonolog di sini.
Saya mengusap batu nisan tersebut dengan lembut sembari berkata.
“Ray, saya pulang dulu yaa. Kamu baik-baik di sana, dan saya
akan mencoba baik-baik juga di sini. Saya gak janji, tetapi saya akan berusaha
untuk melanjutkan hidup saya sampai waktunya tiba, waktu di mana kamu datang
untuk menjemput saya dan melanjutkan hidup kita sama-sama yang sempat tertunda di atas sana selamanya. Dan selagi menunggu
waktu itu saya akan memperbaiki dunia saya sebisa mungkin.”
.
.
“Love you ay...” ucap saya lalu berdiri, kembali berdoa
untuk terakhir kali sebelum meninggalkan makam.
Jujur berat sekali untuk pergi dari sini, tetapi mau
bagaimana lagi? dunia saya dan raya sudah berbeda. Saya yakin raya sudah
benar-benar bahagia disana. Tetapi pernyataan itu selalu menjadi boomerang dan
balik bertanya kepada saya. Apakah saya bahagia juga atas kepergian raya?
Saya mengendarai mobil keluar pemakaman dan untuk terakhir
kali saya berkata dalam hati Ray, saya benar-benar rindu sama kamu. Jangan lupa
mampir ke dalam mimpi saya. Karena hanya itu media saya untuk melepas rindu
kepada kamu. Tahun pertama kepergiannya yang sudah jelas sangat berat bagi
saya, ternyata seperti ini rasanya memperingati tanggal penting selain tanggal
jadi setiap pasangan.
Jalan pulang hari ini tidak ditemani rintik hujan dan musik, tetapi ditemani dengan gumpalan awan yang ditaburi sinar mentari terbenam. Saya tersenyum bahagia dan berkata “Makasih ray, ternyata kamu dengar semua monolog saya tadi.”
Comments
Post a Comment