CP - Above The Clouds

 





Above The Clouds

Rintik hujan dan alunan musik yang menemani saya sekarang. Ya, jam pulang kantor memang selalu berhasil membuat setiap sudut kota menjadi padat dan hal itu tak bisa dihindarkan. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan di sini saya, di dalam mobil sendiri terlalu sepi dan tidak ada yang memecah keheningan ini. Melihat handphone yang tertera hanya email masuk, tidak sengaja melihat ke tanggal hari ini dan seketika saya menghembuskan nafas kasar.

Sudah besok ternyata, waktu cepat sekali berlalu walaupun tanpa dirimu. Batin saya.

Memikirkan apa yang harus saya lakukan besok, menimbang-nimbang hal yang bisa saya lakukan esok hari tanpa adanya air mata yang membasahi pipi. Sudah waktunya bukan? Waktunya saya mengunjungi kamu lagi. Batin saya sembari tersenyum getir.

Sesampainya di rumah saya dengan cepat bersih-bersih dan beristirahat. Setidaknya besok saya tidak menemuinya dalam keadaan yang tak terurus.

_______________________________________

Hari ini tiba, hari di mana saya sangat mengharapkan tidak ada. Seandainya tidak ada hari ini, hidup saya mungkin saat ini sudah damai tentram bersamanya. Mengawali hari dengan melamun sudah sebuah kesalahan, dengan berat langkah saya pergi ke sebuah tempat. Satu-satunya tempat yang biasa saya kunjungi selama kurang lebih satu tahun hanya untuk bertemu dengannya.

“Dev...” Suara ibu mengalihkan lamunan saya. Ternyata benar, ibu selalu merasakan apa yang anaknya rasakan. Bahkan saat ini beliau memeluk saya erat dengan suara yang sedikit tercekat menahan tangisannya, berusaha tegar di hadapan anaknya.

“Devan pergi dulu ya bu.” Ucap saya sambil melepaskan pelukannya dan sekuat tenaga tersenyum, ya walaupun ibu tau itu bukan senyum bahagia.

Ibu hanya mengangguk dan melihat saya pergi meninggalkannya sendirian, termangu. Mengendarai mobil dengan hati-hati, karena takut ada apa-apa karena hati saya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Menyempatkan mampir ke florist untuk membeli sebucket bunga kesukaannya.

Setelah dipikir-pikir dia bukan perempuan yang pilih-pilih tentang bunga kesukaan. Karena dia pernah bilang ke saya kalau

 “Sebenernya saya gak terlalu ngerti sama makna dari bunga-bunga, tapi selagi bunga ini pemberian dari kamu. Saya akan terus menyukai bunga ini tanpa peduli maknanya.”

Ucap dia sambil tersenyum ke arah saya waktu itu. Tidak lupa membeli bunga-bunga lain dan pelengkapnya. Bingung bukan? Kenapa saya membeli banyak sekali bunga di siang hari ini? Tunggu sebentar, nanti kalian juga akan tau tujuan saya hari ini kemana. Bertemu bidadari tidak mungkin dengan tangan kosong bukan?

Sesampainya di tempat tujuan, saya menghela nafas berat sembari mengatur ekspresi. Karena dia paling gasuka wajah sinis dan jutek saya. Saya mencoba senyum ceria dan memperbaiki penampilan di dalam mobil. Turun dari mobil dengan membawa barang-barang yang tadi sempat saya beli, melewati beberapa blok dan akhirnya sampai tepat di depan nisan, tertulis nama seseorang yang berhasil membuat saya di titik ini, Raya Cantika.

Saya berjongkok dan membersihkan beberapa rumput liar. Mencoba untuk berdoa sambil menahan tangis dan sesak yang amat sesak di dalam dada. Selesai berdoa saya menaburkan beberapa kantong bunga dan air yang tadi telah saya beli. Dan tidak lupa sebucket bunga sebagai point utama hari ini. setelah melakukan itu semua saya termenung memandang batu nisan yang sudah cantik oleh banyak bunga di depan saya. Tak tertahankan air mata pun jatuh diluar kuasa saya. Padahal saya sudah berjanji untuk tidak ada air mata hari ini.

“Rayaa...” panggil saya dengan suara serak menahan tangis.

“Maaf raya, saya gak bisa tahan air mata ini. Ternyata saya tanpa kamu itu hanya seseorang yang lemah.” Ucap saya lagi menghapus jejak air mata.

“Kamu betah banget ya di sana? Sampe lupa pergi ke mimpi saya heuh? Setiap malam saya selalu berdoa supaya kamu hadir disetiap mimpi saya. Tapi akhir-akhir ini kamu gak hadir disana, gak mungkin lupa kan sama saya?” monolog saya memanjang.

“Maaf ya ray, saya sudah jarang berkunjung. Dunia saya setahun ini kacau karena kamu pergi tiba-tiba. Mirisnya saya gak bisa memaksa kamu buat tetap tinggal.” Saya bengong sembari memandang batu cantik di depan saya, dan tiba-tiba saya terkekeh sendiri.

“Saya boleh gak sih buat menyerah lalu menyusul kamu ke atas sana?”

“Di sini terlalu sepi ray, dunia terlalu sunyi tanpa kehadiran kamu.” Ucapku terdiam kembali.

“Cantik...” Ucap ku lagi sembari menahan air mata yang sudah tergenang di kelopak mata.

“Kenapa selalu nolak saya panggil cantik? Saya gak lagi berbohong padahal, kamu Raya Cantika bukan?” Tekanku.

“Setahun kepergian kamu yang mendadak ini membuat saya hilang arah ray, dunia saya berhenti tetapi dunia sekitar saya berjalan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dan saya selalu mengutuk itu, kenapa orang-orang tetap bahagia tetapi saya tidak? Kenapa tuhan secepat ini mengambil kebahagiaan terbesar saya?”

“Raya, bertemu dengan kamu itu bukan hal yang biasa saja ray. Setiap hari saya selalu bersyukur karena tuhan telah mempertemukan saya dengan orang seperti kamu. Bertemu dengan kamu itu merupakan anugerah terbesar selama hidup saya, tetapi saya gak pernah memikirkan kalau kehilangan kamu pun merupakan bencana terbesar juga dalam hidup saya. Jangankan memikirkan, terbesit sedetikpun saya gak akan kuat buat kehilangan kamu ray.”

“Raya maaf, disaat terakhirpun kamu meminta untuk tidak bertemu dalam keadaan berantakan seperti ini. tetapi entah kenapa pikiran dan perasaan saya selalu berantakan kalau berurusan dengan kamu. Saya gak bisa janji buat gak hancur disaat kehilangan orang seperti kamu.”

“Kehilangan kamu bukan sebuah pilihan yang bisa saya pilih, itu terjadi tiba-tiba. Datang tanpa ada kata permisi, dan kamu yang memang harus meninggalkan saya sendiri. Lagipula siapa yang siap kehilangan separuh jiwa nya?”

"Jakarta seperti biasa ray, padat, macet, dan banyak polusi. Tidak ada yang berubah, bahkan setelah kehilangan salah satu bidadarinya. Saya akhir-akhir ini suka pergi ke pantai, yaa walaupun hanya untuk berjalan pelan di bibir pantai sambil merasakan deburan ombak. Kadang juga saya ke sana hanya untuk termenung, menyalurkan rindu kepada sang surya yang sedang menenggelamkan dirinya, meninggalkan semua yang sedang terjadi hanya untuk dapat terbit kembali esok hari." Saya kembali terdiam menatap batu nisan di depan saya dengan tatapan kosong. 

“Kamu udah gak sakit lagi kan ray di sana? Kalau itu membuat kamu lebih baik, saya akan mencoba untuk baik juga di sini, walaupun saya tahu itu akan sangat sulit. Hidup saya tanpa adanya kamu, untuk apa ray? Untuk apa saya hidup tanpa punya rumah untuk pulang?”

“Kamu pernah bilang kalau hidup saya harus terus berjalan dan menemukan seseorang untuk menemani hari-hari saya. Saya pikir saya gak akan bisa untuk mencari orang tersebut.” Senyum saya getir.

“Jangankan mencari pengganti kamu, mengikhlaskan kamu pergi untuk selamanya saja itu sudah menjadi pr terberat saya. Haha...” Air mata saya kembali lolos.

...

“Bagaimana keadaan di atas sana? Seperti yang kamu bayangkan atau bahkan jauh lebih indah dari itu? Setiap hari kamu menatap langit sampai saya sendiri yang pegal melihatnya haha. Pasti kamu seneng banget ya di sana? Setentram itukah? Saya juga penasaran ray bagaimana keadaan di atas sana.”

“Ray saya suka memikirkan hal ini. Mengetahui kamu mengidap penyakit itu ternyata tidak ada apa-apa nya dibandingkan harus mendengar kamu menyerah. Ketika saya sadar kalau saya orang yang paling terakhir tahu kalau kamu sakit, itu memang menyakitkan, amat sangat. Tetapi pada saat itu juga saya berjanji sama diri saya sendiri buat terus ada di samping kamu sampai kamu sembuh. Sampai ketika kamu mengatakan kepada saya kalau itu semua sangat menyakitkan. Saya mengutuk diri saya sendiri dan berdoa sama tuhan kalau saya rela merasakan sakit itu semua asal kamu baik-baik saja.”

“Ternyata kamu kuat banget ya ray, ngerasain itu semua sendiri seakan orang lain gak boleh merasakan sakit mu juga. Padahal saya loh orang lainnya.” Ucapku sambil menengok ke arah batu nisan. Saya menarik nafas berat yang kesekian kalinya.

“Monolog saya sudah ngelantur kemana-mana maaf.” Ucap saya cepat. Terdiam menatap sebucket bunga yang saya pilih acak dan tersenyum.

“Saya selalu rindu kamu ray, selalu, setiap waktu.” Ucap saya getir.

“Oh yaaa, sebelum ke sini saya dipeluk sama ibu. Pelukan rindu sih rasanya, rindu sama calon menantu sepertinya hahaa...” Ucap saya, lalu menengok jam ternyata sudah cukup lama saya duduk dan bermonolog di sini. Saya mengusap batu nisan tersebut dengan lembut sembari berkata.

“Ray, saya pulang dulu yaa. Kamu baik-baik di sana, dan saya akan mencoba baik-baik juga di sini. Saya gak janji, tetapi saya akan berusaha untuk melanjutkan hidup saya sampai waktunya tiba, waktu di mana kamu datang untuk menjemput saya dan melanjutkan hidup kita sama-sama yang sempat tertunda di atas sana selamanya. Dan selagi menunggu waktu itu saya akan memperbaiki dunia saya sebisa mungkin.”

.

.

“Love you ay...” ucap saya lalu berdiri, kembali berdoa untuk terakhir kali sebelum meninggalkan makam.

Jujur berat sekali untuk pergi dari sini, tetapi mau bagaimana lagi? dunia saya dan raya sudah berbeda. Saya yakin raya sudah benar-benar bahagia disana. Tetapi pernyataan itu selalu menjadi boomerang dan balik bertanya kepada saya. Apakah saya bahagia juga atas kepergian raya?

Saya mengendarai mobil keluar pemakaman dan untuk terakhir kali saya berkata dalam hati Ray, saya benar-benar rindu sama kamu. Jangan lupa mampir ke dalam mimpi saya. Karena hanya itu media saya untuk melepas rindu kepada kamu. Tahun pertama kepergiannya yang sudah jelas sangat berat bagi saya, ternyata seperti ini rasanya memperingati tanggal penting selain tanggal jadi setiap pasangan.

Jalan pulang hari ini tidak ditemani rintik hujan dan musik, tetapi ditemani dengan gumpalan awan yang ditaburi sinar mentari terbenam. Saya tersenyum bahagia dan berkata “Makasih ray, ternyata kamu dengar semua monolog saya tadi.”  

____________________________________

Haloo Semuaa....
Saya kembali dengan cerita pendek.  
Selamat akhir tahun, gak usah make a wish yah buat 2022? 
Biarkan tahun itu berjalan tanpa adanya harapan yang suka buat kecewa.
Stay safe, stay healty, and be happy everyone.
See you in the next part of this blog, i can't promise anything but i keep trying to make more content and stories in this blog.
Thank you so much and happy reading!








Comments

Popular Posts