CP - PURNAMA
__________
Sesampainya di tempat tinggal, aku segera merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Memejamkan mata bersamaan dengan mengambil nafas dalam-dalam, berusaha kuat di tengah hiruk piruk kehidupan seorang pekerja kantoran biasa. Ya biasa, tidak ada yang spesial dari pekerjaanku. Sama seperti kebanyakan orang, berangkat kantor pagi-pagi dan kembali ke rumah ketika langit berwarna jingga atau bahkan ketika bintang-bintang sudah bertengger di tempatnya.
kumiringkan tubuh menghadap jendela, langit jingga sudah merubah dirinya menjadi gelap gulita. Tak ada bintang ternyata, yang ada hanya sang rembulan. penuh, tidak ada sisi yang terlewatkan. aaahh purnama telah datang batin ku. Dengan semangat aku berjalan meninggalkan tempat tidur membuka pintu balkon perlahan dan bertengger di balkon rumah, menengadah untuk melihat lebih jelas si indah purnama.
semilir angin malam membuatku merapatkan blazer yang ku kenakan. Yaaa...
Masih menatap indah nya purnama, entah sejak kapan aku sangat merindukan purnama. tidak, bukan purnama yang sedang kutatap sekarang. Purnama yang sedikit banyak memberi warna dalam hidupku.
"Nama gue Jevian Purnama, panggil aja jev jangan purnama. Aneh."
Satu kalimat, yang berhasil menghantuiku setiap malam.
Seharusnya aku tidak menunggu hujan di loby fakultas, seharusnya aku tidak meng-acc sosial medianya, seharusnya langsung aku block kontaknya ketika pertama kali ia mengirim ku pesan yang beralasan membahas hasil rapat divisi, seharusnya aku tidak memberi ruang untuknya di dalam hidupku, dan seandainya yang lain agar ia tidak datang sehingga harus pergi di dalam hidupku.
Menyesal? tidak. Aku tidak menyesal akan kehadirannya, namun aku menyesal terhadap diriku sendiri yang terlalu mengandalkan dirinya atas kebahagiaan diriku. Lantas ketika sudah waktunya ia untuk pergi, pergi pula sumber kebahagiaanku.
Apa kabar dirinya di negeri orang sana? Apakah dia masih mengingatku seperti aku yang tidak pernah melupakannya? Kenangan kita terlalu menyakitkan untuk selalu diingat dan terlalu sempurna untuk dilupakan. Sama-sama sadar bahwa masing-masing dari kita butuh ruang yang pada akhirnya diantara ruang-ruang tersebut kita sama-sama merasa kosong, sama-sama merasa ditinggalkan, sama-sama merasa dilupakan.
Ditambah takdir mengharuskan kita untuk berjauhan, sepertinya ia sangat memihak kita yang sedari dulu membuat ruang untuk diri kita masing-masing sampai lupa kalau sebenarnya kita tidak butuh ruang tersebut. Yang kita butuhkan hanya waktu sesaat yang setelah itu kita kembali lagi untuk berbincang hangat.
Sama-sama merasa harus dewasa satu sama lain, yang sebenarnya disebuah hubungan tidak membutuhkan kedewasaan dari keduanya. Hanya membutuhkan sedikit pengertian dan sedikit kesabaran apabila salah satu atau bahkan keduanya sama-sama menyebalkan.
Merasa paling berkorban, yang sebenarnya hubungan adalah 2 arus yang saling bertemu. Bukan main kencang-kencangan arus sampai akhirnya ada yang menang dan ada yang kalah. Hubungan se simple dan se fleksibel itu namun kita membuat sebuah hubungan seakan sesuatu yang serius dan rumit.
Pada akhirnya tiba, dunia yang benar-benar nyata. Dunia yang mengharuskan kita untuk menjadi seseorang yang tangguh, serapuh apapun kita. Dunia yang memaksa kita untuk dewasa disaat kita sangat ingin bermain-main. Dunia yang tidak mepunyai tempat untuk orang-orang yang langsung menyerah apabila kesulitan datang. Iyaa ... Memang sekejam itu.
Ia pergi dengan alasan mengejar cita-cita yang apabila dipikirkan lagi, itu alasan yang cukup untuk pergi dari sebuah hubungan yang saling menyakiti ini. Dan dengan pasrahnya aku mengizinkan ia pergi setelah berfikir ini yang terbaik untuk kita. Nyatanya. Tidak. Hal ini benar-benar menyiksa ku sendiri.
I'm still loving him.
Kemanapun aku mencari pelarian, tidak ada yang lebih indah dibandingkan purnama ku yang dulu. tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan purnama yang dulu selalu menyempatkan berbincang diujung hari menemaniku menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang aku harap tidak habis-habis supaya aku bisa terus berbincang dan mendengar suaranya.
Seandainya aku tahu kalau hubungan kita akan benar-benar berakhir. Dulu, saat kau mengirim pesan akan pergi meninggalkan negeri ini. aku akan sekuat tenaga untuk menahanmu, dengan 1000 kata maaf yang akan aku ucapkan untuk menahan mu supaya tetap tinggal disini, yang nyatanya dan dengan bodohnya aku sendiri yang mengucapkan "Selamat Tinggal, tetaplah sehat dan berbagahagialah." Pertanyaannya, apakah kau akan tetap tinggal atau sebesar itu keinginanmu untuk cepat-cepat meninggalkanku?
Tersadar dari lamunan yang sedari awal sampai akhir isinya hanya berandai-andai, purnama yang sedari tadi ku tatap tertutup oleh gumpalan awan. Aku terkekeh, bahkan purnama yang ada dilangit pun enggan aku tatap lama-lama. Menyadari kalau kau sudah bukan miliku dan akupun sudah bukan milikmu, atau sedari awal kita memang tidak pernah saling memiliki.
What ever it is, i'm happy with you and all about us.
Thank you for everything and anything.
NOTE:
Haiii!!!
Selamat tahun baru yang cukup telat ahahah...
Saya kembali lagi, setelah terus menghilang wkwkwk
Apa kabar kaliann? Saya harap kabar baik selalu menyertai kalian dimanapun dan kapanpun kalian berada.
Stay safe! pandemi belum berakhir tetap sehat dan tetap bersabar.
HAPPY READING!!!
Comments
Post a Comment